Ringkasan Peristiwa Yitian Tulong Ji

Yitian Tulong Ji dibuka dengan setting sekitar tahun 1262, yaitu tiga tahun setelah Guo Xiang meilhat Yang Guo terakhir kalinya di Hua Shan. Dalam tiga tahun itu ia bertualang untuk melupakan kesedihannya karena tidak bisa menemui Yang Guo lagi. Ia sadar bahwa Yang Guo hanya milik Xiao Longnu, dan ia sama sekali tidak punya peluang bahkan untuk bertemu lagi.

Tiga tahun yang lalu Guo Xiang juga sempat ketemu Jue Yuan Dashi dan Zhang Junbao, dan tahun itu ia berkunjung ke Gunung Shaoshi. Ia kembali ketemu dengan mereka berdua. Tetapi kali ini pasukan Mongolia di bawah pimpinan Kubilai Khan sudah menguasai bagian Utara negeri Song. Sampai saat itu Kubilai masih belum mengumumkan bahwa ia mendirikan sebuah dinasti baru.

Kubilai Khan baru memproklamirkan Dinasti Yuan pada tahun 1271.

Guo Xiang akhirnya belajar sebagian ilmu tenaga dalam Jiu Yang Shen Gong, dan Zhang Junbao juga sebagian lagi, tetapi masing-masing memiliki bagian yang berbeda.

Setelah itu, Guo Xiang mendirikan Emei Pai, dan Zhang Junbao mendirikan Wudang, sekaligus mengganti namanya menjadi Zhang Sanfeng. Sampai Guo Xiang meninggal mereka masih menjalin hubungan baik.

Sejarah Dinasti Yuan diwarnai berbagai peperangan, baik dari dalam maupun luar kekaisaran. Kubilai Khan menyatukan berbagai kalangan dari suku-suku yang disatukan di bawah bendera Mongolia oleh kakeknya, Genghis Khan, sampai ke suku-suku lain yang sebetulnya sudah terbentuk menjadi sebuah negara merdeka seperti Goryeo — atau tepatnya Korea di dunia modern. Ketika itu kerajaan yang berkuasa di semenanjung Korea adalah Kerajaan Goryeo. Setelah mereka takluk di bawah Dinasti Yuan, raja-raja Goryeo selanjutnya terpaksa mengawini salah seorang Putri dari Dinasti Yuan dan mengangkatnya sebagai Ratu dengan alasan politik. Ini akan membatasi ruang gerak mereka, dan nyaris sama sekali meniadakan kemungkinan bagi mereka untuk memberontak.

Cerita kita diawali dengan cuplikan dari Yitian Tulong Ji pada saat para pendekar dari dunia persilatan berkumpul di Shaolin dengan tujuan untuk membalas dendam kepada Xie Xun, dan setelah Zhou Zhiruo dengan Jiu Yin Baigu Zhua yang dipelajarinya sendiri dengan bimbingan dari kitab yang didapat dari Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga itu.

Saat itu adalah tahun 1361, Kuil Shaolin dikepung oleh pasukan Chaghan Temur tepat setelah Xie Xun membereskan urusan lamanya dengan Cheng Kun, dan kemudian diterima sebagai biksu. Zhou Zhiruo dalam situasi kritis itu menyerahkan Kitab Warisan Wumu kepada Zhang Wuji, ini bertentangan dan sekaligus sesuai dengan pesan terakhir mendiang gurunya, Miejue Shitai, yang melarangnya menikahi Zhang Wuji atau bahkan menjalin hubungan dekat dengannya, tetapi juga menyuruhnya menyerahkan kitab berisi strategi perang tersebut kepada seorang pria yang layak dan bisa memimpin pasukan untuk merobohkan Dinasti Yuan.

Dengan berbekal petunjuk dari kitab itu Zhang Wuji berhasil mengatasi kepungan pasukan Chaghan Temur dan membebaskan Shaolin dari masalah. Saat itu bala bantuan dari pasukan Ming Jiao yang dipimpin oleh Xu Da datang agak terlambat.

Merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memimpin pasukan perang secara langsung, akhirnya Zhang Wuji mewariskan kitab tersebut kepada Xu Da untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Bagi Anda yang sudah pernah membaca cerita ini atau menonton salah satu hasil adaptasi drama, tidak akan sulit untuk langsung melompat ke Bab 1 serial Menjelajah Dunia yang saya susun ini. Tetapi kalau sama sekali belum pernah mengikutinya, maka ringkasan berikut akan cukup untuk mulai mengikuti cerita selanjutnya.

Jendral Chaghan Temur

Keluarga Chaghan Temur berasal dari Beshbaliq, Xinjiang. Kakek buyutnya pindah ke Zhongyuan di tengah-tengah kekacauan akibat serbuan balatentara Genghis Khan. Ia berasal dari suku Naiman. Ketika masih muda, Chaghan Temur lulus dari ujian negara, dan mendapat anugerah gelar Juren1.

Pada tahun 1351, kampung halaman Chaghan diteror oleh para bandit lokal yang juga menghantui para penduduk di wilayah-wilayah tetangga. Chaghan dalam rangka membela diri kemudian menggalang para militer lokal di Shenqiu untuk memerangi kelompok bandit ini dan berhasil meredamnya.

Berita mengenai seorang Juren yang berhasil meningkatkan sistem keamanan lokal tersebar hingga ke Sidang Majelis Kekaisaran, dan pada tahun 1352 Chaghan diangkat menjadi seorang Darughachi2, atau Zhangguan yang berkuasa atas sebuah Wilayah Administratif3. Saat itu ia berhasil menggalang sepuluh ribu orang di bawah komandonya.

Teror para bandit di kampung halaman Chaghan itu sebenarnya adalah sebuah gejala awal merosotnya Dinasti Yuan. Orang banyak menyalahkan sebuah proyek untuk membangun bendungan dan mengeruk sungai untuk mengatasi banjir besar yang terjadi pada tahun 1344 akibat meluapnya Sungai Kuning, yang menyebabkan krisis di Khanbaliq.

Pada tahun 1355, Chaghan berarak ke Utara. Setelah melalui serangkaian peperangan ia berhasil meredam kekacauan di Hebei. Majelis Kekaisaran menganugerahkan posisi sipil kepadanya. Pada tahun 1356 ia menjabat Bingbu Shangsu, atau Menteri Urusan Perang. Di antara suku Han ia lebih dikenal sebagai Pangeran Ruyang4 atau Raja Ruyang, karena saat itu keluarganya menempati rumah dinas di wilayah Ruyang, Henan.

Chaghan hampir selalu berada di medan tempur dan jarang hadir di istana, tetapi kiprahnya menarik perhatian Kaisar Toghon Temur dan Permaisuri Gi. Setiap kali Chaghan pulang dari garis depan, ia selalu diundang secara khusus ke istana untuk acara kecil, tetapi Toghon hampir selalu mengobrol tentang berbagai topik yang tidak penting. Acara-acara seperti ini sebenarnya adalah cara kaisar mencari sekutu yang dianggapnya bisa dipercaya, untuk menyamarkannya ia selalu mengundang beberapa menteri lain beserta keluarga mereka. Hanya dengan sebuah isyarat khusus Sang Kaisar bersama Chaghan akan memasuki sebuah ruangan jika ada suatu hal penting untuk dibicarakan. Dengan demikian Zhao Min dan Wang Baobao sama sekali tidak asing dengan lingkungan dalam istana.

Putra Mahkota pilihan Kaisar Toghon Temur adalah Pangeran Ayushiridara, yang dilahirkan oleh Selir Gi sebelum ia diangkat menjadi permaisuri. Koke Temur, atau Wang Baobao, lebih tua beberapa tahun dibandingkan Sang Pangeran, dan dengan luwes ia mendekati pangeran itu untuk mengajaknya bermain-main. Saat itu Ayushiridara berusia 15 tahun, dan ia sangat suka berlatih seni bela diri. Wang Baobao menemaninya berlatih. Tentu saja dengan luwes ia akan sengaja mengalah demi mengambil hati pangeran.

Suatu hari Zhao Min remaja yang baru menginjak usia 13 tahun, dan sudah mendapat gemblengan dasar-dasar kungfu dari Fan Yao sejak usia 9 tahun, menonton kakaknya berlatih dengan pangeran muda itu. Ketika melihat kakaknya jatuh terjungkal, ia dengan gesit bersalto beberapa kali mendekati mereka, lalu melompat secepat kilat dengan tinjunya terarah langsung ke hidung Ayushiridara yang jauh lebih tinggi ketimbang dirinya. Pangeran itu terkesiap dan tidak mampu mengelak. Pukulan itu mengenai hidung Sang Pangeran dengan telak sampai berdarah, dan ia jatuh terjengkang, pandangannya seketika gelap, tapi ia tidak pingsan.

Beberapa orang pengawal menjerit kaget dan bergegas membantu majikan kecil mereka bangkit berdiri. Begitu Ayushiridara bangkit, ia melihat ternyata yang memukulnya adalah seorang anak perempuan bertubuh kecil dengan wajah putih mulus yang secantik bunga, tetapi memakai setelan putih ala anak laki-laki. Anak perempuan itu tersenyum penuh kemenangan, tampaknya sangat bangga akan kemampuannya sendiri, berdiri tegap dengan dagu terangkat dan kedua tangannya berkacak pinggang tanpa sedikit pun merasa bersalah telah meninju seorang putra kaisar.

Wang Baobao begitu kagetnya, seketika itu ia membentak, “Minmin! Apa yang kau lakukan?”

Zhao Min menatapnya dengan heran, sedikitpun ia tidak merasa bersalah. “Gege, dia memukulmu!” katanya. Ia menudingkan telunjuknya ke arah Ayushiridara yang masih belum pulih dari kagetnya. Saat itu Toghon Temur dan Permaisuri Gi sedang mengobrol dengan Chaghan dan ibu Zhao Min mengenai hal-hal yang berbau kekeluargaan. Mereka melihat kejadian itu dan bergegas mendatangi lapangan terbuka yang saat itu sudah dipenuhi kerumunan beberapa pejabat. Kaisar melihat hidung putranya berdarah, dan ternyata anaknya memakai pakaian yang biasa dikenakan untuk latihan bela diri. Ia tertawa terbahak-bahak, lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Zhao Min kecil dan putranya sendiri.

“Ini bukan masalah sama sekali,” katanya dengan ringan. “Kena pukul waktu latihan justru membuatmu menjadi laki-laki sejati!” Ia berpaling kepada Zhao Min dan bertanya, “Siapa namamu?”

Dengan kegagahan seorang Kubilai ketika memberi perintah untuk menyerbu Dinasti Song, Zhao Min berkata dengan suara lantang, “Minmin Temur memberi salam kepada Huang Shang!” Ia meletakkan tangan di dada sambil berlutut hormat. Gayanya sangat bertentangan dengan perawakannya yang kecil dan wajahnya yang cantik dan halus.

Semua orang meledak dalam tawa. Ketegangan sesaat itu berubah menjadi meriah. Sore itu juga Sang Kaisar menyuruh orang menyiapkan alat tulis, lalu menuliskan sebuah surat pengangkatan resmi yang menganugerahkan gelar Shaomin Junzhu5 kepada Zhao Min. Sang Permaisuri memberinya seperangkat busur dan anak panah, lalu memberikan tanda pengenal yang bisa dipakai Zhao Min untuk menemuinya kapan saja ia suka. Permaisuri Gi sangat menyukai Zhao Min, tetapi Ayushiridara sama sekali tidak. Ia tidak pernah melupakan pukulan telak yang membuat hidungnya berdarah.

Zhao Min berlutut di hadapan Kaisar dan Permaisuri Gi untuk menerima anugerah itu, lalu menyatakan terima kasihnya dengan gaya yang elegan. Sejak saat itu semua rakyat di sekitar kediaman Chaghan mengenalnya sebagai Shaomin Jinzhu. Mereka sangat menyukai gayanya yang khas dan tutur katanya yang sedikit pun tidak berbeda dengan semua orang Han. Para anggota Ming Jiao selalu menyebut nama Chaghan Temur dengan penuh kebencian, tetapi rakyat di sekitar tempat kediaman Chaghan dan bahkan di sejumlah tempat lain yang tercakup dalam kekuasaannya, tidak akan pernah menyetujui pendapat Ming Jiao.

Di bawah bimbingan Fan Yao, Zhao Min rajin berlatih kungfu, yang membuat perawakannya yang kecil menjadi atletis. Ia tumbuh menjadi gadis remaja cantik yang gesit dan lincah. Dengan otaknya yang cerdas ia punya kebiasaan berdebat dengan para perwira di bawah komando ayahnya mengenai berbagai hal. Ia merekrut sendiri beberapa ajudan dengan keterampilan memanah nomor satu dari antara para prajurit ayahnya. Delapan orang itu dijulukinya Delapan Pendekar Panah Dewa6.

Secara bertahap, Zhao Min yang semakin dewasa memahami betul bahwa di kubu kekaisaran terdapat para pejabat dan perwira yang suka bersikap seenaknya dan menggunakan kekerasan di luar batas. Sebenarnya ia tahu bahwa hal-hal semacam ini juga ada dalam setiap dinasti lain yang berkuasa sebelumnya. Tetapi setelah ia berkembang semakin dewasa, ia sadar bahwa Dinasti Yuan berasal dari Mongolia, wilayah yang jauh dari Zhongyuan sebelum Kubilai Khan menaklukkan Song. Saat ini jarak tersebut terasa jauh lebih dekat karena seolah-olah tembok pemisah itu sudah setengah dibongkar dengan berdirinya Dinasti Yuan.

Kendatipun begitu, tindakan yang brutal dari perwira dan pejabat setempat akan dengan mudah didorong menjadi sumber kebencian kepada semua keturunan Mongol oleh para pemberontak. Zhao Min tahu betul hal ini sangat merugikan semua pihak dalam jangka panjang. Ia adalah seorang anak yang cerdas, ayahnya memberikan pendidikan ala suku Han sejak kecil. Bahkan hampir semua pakaian yang mereka kenakan sehari-hari, dan juga makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga, bangunan rumah, adalah bagian dari tradisi dan kebudayaan bangsa Han. Tentu saja secara alamiah mereka juga makan makanan khas Mongolia, minum minuman khas Mongolia, termasuk semua makanan kecil, pakaian adat dan kesenian lain.

Para anggota keluarga Chaghan menguasai bahasa Han baik lisan maupun tertulis dengan sempurna. Kaligrafi Zhao Min sangat indah. Tulisan seorang sastrawan kelas atas pun belum tentu lebih baik ketimbang tulisan tangan Zhao Min. Ia sangat mengagumi karya-karya seni dalam bentuk puisi maupun lukisan.

Dari waktu ke waktu, ketika Zhao Min melihat ketidakadilan atau penindasan terjadi di suatu wilayah yang berada di luar komando ayahnya, ia akan mengajak para ajudannya untuk menyelidiki latar belakang peristiwa itu. Lalu kedelapan pemanah ulung itu akan menginterupsi tindakan para perwira yang menurut penilaian Zhao Min tidak dapat diampuni. Mereka memasang perangkap untuk menggiring orang-orang ini ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan komandan mereka, dan hanya dengan sebuah jentikan jari Zhao Min memberi isyarat untuk melepaskan tembakan beruntun. Anak-anak panah akan menghujani sasaran tanpa seorang pun mampu meloloskan diri. Ketika kasus itu diselidiki, yang ditemukan adalah fakta bahwa semua anak panah yang digunakan adalah milik pasukan yang menjadi korban itu sendiri. Tindakan ini bahkan tidak diketahui oleh Chaghan Temur.

Chaghan sangat tidak menyukai gaya bahasa para pejabat istana, inilah alasan utama ia hanya muncul di istana ketika sungguh-sungguh ada urusan penting. Tugas untuk maju ke medan laga akan diterimanya dengan segala senang hati, karena tugas itu akan menjauhkannya dari istana.

Sebelum ia menjadi pejabat, Chaghan sering mengomel di tengah acara makan keluarganya sambil memaki beberapa pejabat yang dinilainya sebagai penjilat besar, dan Zhao Min kecil yang baru berusia empat tahun bertanya, “Pa, bagaimana orang bisa menembak kentut kuda7?”

Semua orang akan tertawa terbahak-bahak mendengar keluguan pertanyaan itu, lalu ibunya akan menatapnya dengan pandangan tegas untuk menegur, dan menyuruhnya jangan bicara sembarangan. Tapi Chaghan mengangkatnya, dan meletakkannya di pangkuannya sambil berkata, “Coba kau pikir, itu bisa dilakukan atau tidak?”

Zhao Min seperti biasa akan meletakkan telunjuk di pelipisnya sambil berpikir, lalu menjawab, “Aku tidak bisa. Papa bisa?”

“Nah, Papa juga tidak bisa,” sahut Chaghan. “Berarti itu apa?”

“Orang itu bohong!” jawab Zhao Min dengan yakin.

“Kira-kira begitu,” kata Chaghan.

Sebagai Pangeran Ruyang

Tak lama setelah Chaghan menjabat sebagai Menteri Urusan Perang, dengan tugas utama membasmi pemberontakan lokal yang diawali oleh gerakan rakyat sebagai tanggapan atas buruknya situasi ekonomi di Khanbaliq dan sekitarnya, ia berkenalan dengan Si Tangan Halilintar8, Cheng Kun (成昆).

Cheng Kun menyimpan dendam pribadi kepada Ketua Ming Jiao saat itu, yaitu Yang Dingtian (陽頂天), yang menikahi adik seperguruannya. Cheng Kun dan istri Yang Dingtian sebelumnya adalah sepasang kekasih, dan karena seringkali ditinggalkan oleh Yang Dingtian untuk berlatih kungfu, maka hubungan tersebut masih berlanjut setelah adik seperguruan Cheng Kun menikah. Mereka bahkan melakukan pertemuan rahasia di lorong rahasia Ming Jiao, yang seharusnya hanya Jiaozhu yang boleh memasukinya.

Ketika akhirnya Yang Dingtian memergoki pertemuan itu, qi di dalam tubuhnya menjadi kacau, dan ia akhirnya meninggal di dalam ruang rahasia itu. Istrinya yang merasa bersalah bunuh diri di sebelah jenazahnya. Ini adalah alasan utama Cheng Kun memusuhi Ming Jiao sedemikian rupa sampai ingin menghancurkannya sama sekali.

Ayah angkat Zhang Wuji, Singa Berambut Emas, Xie Xun, adalah murid Cheng Kun. Ketika itu ia masih belum mengenal Zhang Cuisan dan Yin Soso.

Cheng Kun merancang rangkaian pembunuhan di rumah Xie Xun, memperkosa istrinya, membunuh anaknya, Xie Wuji9, yang masih bayi, dan seisi rumahnya. Semuanya bertujuan untuk memancing amarah Xie Xun supaya ia menimbulkan kekacauan dengan melakukan pembunuhan berantai di dunia persilatan, hanya untuk memancing Cheng Kun keluar dari tempat persembunyiannya. Xie Xun saat itu belum lama menikah, dan Xie Wuji adalah putra pertama mereka.

Rencana itu berhasil, dan Xie Xun menjadi tertuduh utama dalam pembunuhan berantai yang brutal, bahkan sampai Kongjian (空見) Dashi dari Shaolin menjadi korbannya. Meskipun sebenarnya kematian Kongjian Dashi adalah akibat dari kebohongan Cheng Kun, yang saat itu sudah bergabung dengan Shaolin, dan bahkan menjadi murid dari Kongjian Dashi sendiri.

Sampai di sini pun, Cheng Kun, yang sekarang sudah menjadi Yuanzhen Dashi dari Shaolin, masih belum puas. Ming Jiao masih belum hancur meskipun Yang Dingtian menghilang, dan sebetulnya sudah meninggal, dan sekarang perguruan itu dalam keadaan kacau balau tanpa pemimpin.

Dari cerita adik seperguruannya, Yuanzhen tahu bahwa Ming Jiao punya tujuan rahasia untuk menggulingkan Dinasti Yuan, ini dimanfaatkannya untuk menjalin hubungan dengan Chaghan Temur yang mengemban tugas untuk membasmi pemberontakan. Ia ingin meminjam tangan Chaghan untuk menghancurkan Ming Jiao.

Yuanzhen mengarang skenario untuk mengadu domba Ming Jiao dengan semua perguruan kuat lainnya di Wulin, dalam hal ini termasuk dengan Shaolin. Bagi Chaghan Temur, sepanjang taktik Yuanzhen bisa membantunya menyelesaikan tugas, maka taktik tersebut akan dianggapnya baik dan layak. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Shaolin, Wudang, Kongtong Pai, Kunlun Pai, dan seterusnya. Yuanzhen mengatakan bahwa semua perguruan silat ini adalah berbahaya bagi pemerintah, karena bertujuan untuk menggalang pemberontakan. Seketika itu Chaghan memandang semuanya sebagai ancaman. Kalaupun ia menghormati Shaolin dan semua kuil lain yang menganut agama Buddha atau Taoisme, tetapi setidaknya mereka ikut mendukung Ming Jiao, yang oleh Yuanzhen didorong ke depan sebagai ancaman utama.

Suatu hari, Zhao Min yang saat itu berusia sekitar 16 tahun, mendengar pembicaraan ayahnya dengan Yuanzhen. Ia sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang Ming Jiao, dan ia mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Untungnya Ku Toutuo, gurunya, tidak bisa diajak bicara karena bisu. Tapi gurunya punya banyak pengetahuan, dan ia biasa berkomunikasi lewat tulisan. Urusan rahasia ini harus dijaga, tidak boleh sampai diketahui oleh banyak orang. Bicara dengan Ku Toutuo seringkali lebih aman ketimbang yang lain.

Segera setelah berpikir begitu, ia membatasi sumber informasinya, dan hanya mengandalkan Fan Yao. Tetapi Fan Yao tidak banyak bercerita mengenai Ming Jiao, kelihatannya ia sangat membenci kelompok itu. Akhirnya ia beralih kepada Cheng Kun.

Sampai di sini Cheng Kun melihat peluang untuk mempercepat rencananya dengan memakai tangan Zhao Min. Alhasil, semuanya berjalan mulus, mereka berhasil menangkap orang-orang penting dari enam perguruan arus utama. Sialnya semua anggota Ming Jiao justru lolos, semuanya gara-gara Zhang Wuji. Ini kedua kalinya Zhang Wuji menggagalkan muslihat Cheng Kun.

Berikutnya lebih parah lagi, ternyata Shaomin Junzhu terjerat cinta oleh Zhang Wuji. Ia kehilangan sekutunya, dan bahkan menjadi lawan yang berbahaya.

Fan Yao

Fan Yao (范遙) adalah Wakil Ketua sayap kiri Ming Jiao, yang secara resmi menjabat sebagai Guangming Youshi (光明右使).

Footnotes

  1. Juren adalah gelar yang diberikan kepada para pelajar yang lulus ujian negara di tingkat propinsi di dalam sistem Kekaisaran Tiongkok kuno. Ujian tingkat propinsi ini dikenal dengan nama Xiangshi. Gelar Juren ini lebih tinggi daripada Shengyuan, tetapi lebih rendah ketimbang Jinshi.

  2. Darughachi adalah sebutan bagi seorang pejabat di dalam struktur kepemimpinan Mongol yang bertanggung jawab atas pajak. Di bawah Dinasti Yuan yang didirikan Kubilai Khan, nama ini diganti menjadi Zhangguan. Jabatan ini sendiri biasanya dipegang oleh seorang Mongol di bawah Dinasti Yuan.

  3. Fu (府) salah satu Divisi Administratif dalam struktur pemerintahan Tiongkok kuno.

  4. Ruyang Wang (汝陽王 atau 汝阳王) adalah gelar kebangsawanan yang diberikan kepada ayah Zhao Min. Karakter Wang (王) sebenarnya memang berarti ‘raja’, tetapi berbeda dengan ‘Kaisar’. Raja di sini kurang lebih adalah setingkat Gubernur atau Kepala Daerah. Ruyang adalah nama sebuah wilayah di propinsi Henan, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Luoyang.

  5. Nama Zhao Min dalam bahasa Han adalah 趙敏. Karakter Shao (少) memiliki beberapa makna, salah satunya adalah ‘kecil’ atau ‘muda’. Gelar Shaomin Junzhu (少敏君主) ini sebetulnya adalah gabungan sebuah nama panggilan ‘Minmin Kecil’ dan gelar kebangsawanan Junzhu (君主), yang memiliki otoritas atas sebuah wilayah. Dengan demikian Zhao Min sejak kecil telah menjadi seorang penguasa sebuah wilayah, meskipun berada di bawah komando ayahnya. Otoritas demikian tidak dimiliki oleh Koke Temur yang adalah kakak laki-lakinya. Gelar ini juga bisa kita tulis ‘Jinzhu’, yang tampak lebih sesuai dengan pengucapannya. Karena karakter Shao hampir sama pengucapannya dengan marga Zhao (趙) milik suku Han, ia kemudian memakai karakter ini sebagai pengganti marga untuk namanya dalam bahasa Han. Ini sebabnya kenapa ia selalu memperkenalkan diri sebagai Zhao Min.

  6. Shen Jian Ba Xiong (神箭八雄), secara literal adalah ‘Panah Dewa Delapan Pahlawan’.

  7. Istilah yang dipakai Chaghan adalah Pai Ma Pi (拍马屁), yang sebenarnya ungkapan untuk sikap ‘menjilat’. Secara literal ketiga karakter tersebut berarti ‘Menembak atau menepuk kentut kuda’. Zhao Min kecil mengartikan istilah tersebut secara literal.

  8. Julukan Cheng Kun diterjemahkan sederhana menjadi Tangan Halilintar. Ini berasal dari karakter Hun Yuan Pi Li Shou (混元霹靂手). Tiga karakter terakhir Pili Shou memang mewakili ‘Tangan Halilintar’, tetapi istilah Hun Yuan (混元) bisa bermakna ‘Asal-usul Dunia’. Belum jelas apa yang dimaksud dengan istilah ini. Kita memakai julukan yang sementara ini sudah umum bagi Cheng Kun, yaitu Si Tangan Halilintar atau Tangan Petir.

  9. Xie Xun memiliki seorang putra yang bername Xie Wuji, tetapi kemudian anak ini dibunuh oleh Cheng Kun, gurunya, seolah-olah tanpa alasan yang jelas. Cheng Kun juga membunuh seisi rumahnya.